Feisal Tanjung Gagal Jadi Perwira Laut, Berakhir Jadi Panglima ABRI

by -2487 Views
Foto ; repro/dok/nkp*/ilustrasi*
banner 468x60

TriBrataPost.Com | JSCgroupmedia ~ Jalan menuju puncak pengabdian tidak selalu dimulai dari keberhasilan.

Kisah Jenderal TNI (Purn.) Feisal Edno Tanjung menjadi salah satu gambaran bahwa kegagalan pada tahap awal kehidupan tidak selalu berarti berakhirnya sebuah cita-cita.

banner 336x280

Tokoh militer kelahiran Tarutung, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, 17 Juni 1939, itu justru menemukan jalan berbeda hingga kemudian dipercaya menjadi Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) pada 1993–1998.

Feisal sejak muda diketahui memiliki keinginan untuk berkarier di lingkungan militer.

Menariknya, pilihan awalnya bukan Angkatan Darat. Ia justru bercita-cita menjadi perwira Angkatan Laut dan pernah mencoba mengikuti seleksi Akademi Angkatan Laut ketika masih muda.

Namun, cita-cita tersebut tidak langsung terwujud karena persoalan usia. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, Feisal kembali berusaha masuk dunia militer dan pada akhirnya memilih jalur Angkatan Darat.

Keputusan tersebut kemudian mengubah seluruh perjalanan hidupnya.

Feisal merupakan lulusan Akademi Militer Nasional tahun 1961. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia mengawali karier di lingkungan militer dan kemudian bergabung dengan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), satuan yang kelak berkembang menjadi Komando Pasukan Khusus atau Kopassus.

Dari lingkungan pasukan khusus inilah kemampuan dan pengalaman militernya ditempa melalui berbagai penugasan.

Perjalanan karier Feisal berlangsung panjang dan sarat penugasan. Ia pernah bertugas dalam berbagai operasi di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan Barat dan Irian Jaya.

Ia juga tercatat mengikuti berbagai penugasan yang berkaitan dengan operasi Dwikora, operasi di Irian Jaya, serta sejumlah operasi keamanan dalam negeri.

Salah satu pengalaman yang menonjol dalam perjalanan militernya adalah ketika Feisal memimpin Ekspedisi Lembah X di Irian Jaya pada 1969.

Dalam penugasan tersebut, ia memimpin tim menuju kawasan yang dikenal memiliki medan berat dan relatif terisolasi. Pengalaman itu menjadi bagian penting dari perjalanan panjangnya sebagai perwira lapangan.

Dari lapangan, karier Feisal kemudian berkembang menuju berbagai jabatan strategis. Ia pernah menjadi dosen di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat, kemudian menjabat Kepala Staf dan Komandan Brigade Infanteri Lintas Udara 17 Kostrad.

Setelah itu, ia dipercaya menduduki sejumlah posisi komando lainnya di lingkungan Kostrad dan Angkatan Darat.

Pada 1985, Feisal dipercaya menjadi Panglima Kodam VI/Tanjungpura. Tiga tahun kemudian, ia menduduki posisi Komandan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat atau Seskoad.

Kariernya terus bergerak ke tingkat yang lebih tinggi hingga pada 1992 ia dipercaya menjadi Kepala Staf Umum ABRI.

Nama Feisal semakin dikenal secara nasional setelah ia ditunjuk memimpin Dewan Kehormatan Perwira (DKP) yang menangani kasus Santa Cruz di Timor Timur pada 1991.

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.