Festival Ka Pusagaikat Hidupkan Kembali Akar Budaya Mentawai

by -2961 Views
Foto ; repro/dok/mentawaikita.com*
banner 468x60

Malam harinya, masyarakat diajak menyaksikan film “Umat Simagerre” karya Paulus Sabaggalet.

Pemutaran film tersebut kemudian dilanjutkan dengan diskusi sebagai ruang apresiasi sekaligus pertukaran gagasan mengenai kehidupan masyarakat Mentawai.

banner 336x280

Memasuki hari ketiga, Rabu (26/8/2026), festival membawa sagu lebih jauh ke ranah kreativitas dan ekonomi melalui Lomba Memasak Sagu Inovatif.

Sagu yang selama ini dikenal sebagai pangan tradisional diolah menjadi berbagai jenis sajian. Kreativitas peserta menunjukkan bahwa sagu tidak harus ditempatkan hanya sebagai bagian dari masa lalu.

Sagu juga dapat dikembangkan menjadi produk pangan kreatif yang memiliki nilai ekonomi.

Gagasan tersebut penting bagi Mentawai.

Di tengah tantangan ekonomi masyarakat kepulauan, pangan lokal dapat menjadi bagian dari strategi pengembangan ekonomi kreatif apabila dikelola secara inovatif tanpa kehilangan akar budayanya.

Pada hari yang sama, peserta juga diperkenalkan dengan tradisi Tato Mentawai atau Titi. Tradisi tersebut memiliki nilai sejarah dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Mentawai.

Rangkaian kegiatan hari ketiga kembali ditutup dengan pemutaran film pada malam hari. Film ditempatkan bukan sekadar sebagai hiburan, tetapi sebagai media pembelajaran, apresiasi dan refleksi.

Pada Kamis (27/8/2026), festival memasuki hari keempat dengan Lomba Memasak Sagu Tradisional melalui menu Sagai Sibogjak.

Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali pengetahuan pengolahan pangan tradisional Mentawai, terutama kepada generasi muda.

Sagu kembali menjadi pusat perhatian.

Bukan hanya sebagai bahan makanan, tetapi sebagai simbol pengetahuan yang diwariskan antargenerasi.

Siang harinya, peserta mengikuti Workshop Pembuatan Tato Mentawai atau Titi. Melalui kegiatan tersebut, peserta diajak mengenal bentuk, proses dan nilai yang terkandung dalam tradisi tato Mentawai.

Malam hari, kreativitas masyarakat tampil melalui Lomba Teater Cerita Asal Usul Sagu.

Cerita mengenai sagu diangkat ke atas panggung melalui seni pertunjukan, mempertemukan pengetahuan lokal dengan ekspresi kreatif generasi masa kini.

Rangkaian hari keempat ditutup dengan pemutaran dan diskusi film “After the Trees” karya Dhika Rizki.

Sementara pada hari kelima, Jumat (28/8/2026), festival mulai memasuki pembahasan yang lebih luas: bagaimana kekayaan budaya Mentawai dapat menjadi sumber kreativitas dan kekuatan ekonomi masyarakat.

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.