Festival Ka Pusagaikat Hidupkan Kembali Akar Budaya Mentawai

by -2962 Views
Foto ; repro/dok/mentawaikita.com*
banner 468x60

Talkshow Ekonomi Kreatif bertema “Kreativitas Berakar dari Kearifan Lokal Mentawai” menghadirkan Yulviadi Adek sebagai keynote speaker dan Anjelo Kalil dari Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Mentawai sebagai narasumber.

Peserta yang terdiri dari pelajar, pelaku kreatif, komunitas, pelaku UMKM dan masyarakat diajak melihat peluang pengembangan ekonomi kreatif yang berangkat dari kekayaan budaya dan kearifan lokal Mentawai.

banner 336x280

Pesan yang dibawa cukup jelas: budaya tidak harus berhenti sebagai benda yang disimpan atau tradisi yang hanya dipertontonkan pada acara tertentu.

Budaya dapat menjadi sumber gagasan. Budaya dapat menjadi sumber kreativitas.

Dan jika dikelola secara bertanggung jawab, budaya juga dapat membuka peluang ekonomi bagi masyarakat tanpa menghilangkan identitasnya.

Pada malam harinya, semangat tersebut kembali hadir melalui Lomba Turuk Laggai. Peserta menampilkan kemampuan, kreativitas dan penghayatan dalam salah satu bentuk seni pertunjukan tradisional Mentawai.

Rangkaian kegiatan selama lima hari tersebut memperlihatkan bahwa Festival Ka Pusagaikat bukan sekadar perayaan. Ia menjadi ruang belajar bersama.

Anak-anak belajar mengenal budaya. Generasi muda mendapatkan ruang berekspresi. Seniman memperoleh ruang berkarya. Pelaku UMKM mendapatkan ruang memperkenalkan kreativitas. Masyarakat mendapatkan ruang untuk kembali berbicara mengenai pangan, pengetahuan dan identitas mereka sendiri.

Di tengah arus modernisasi yang semakin cepat, ruang-ruang seperti ini menjadi penting. Kebudayaan tidak akan bertahan hanya karena sering disebut sebagai warisan. Kebudayaan akan tetap hidup apabila dipelajari, dipraktikkan, dikembangkan dan diwariskan.

Karena itu, semangat Ka Pusagaikat—Bersagu memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar sagu sebagai bahan pangan.

Ia berbicara tentang akar kehidupan. Tentang pengetahuan yang diwariskan. Tentang hubungan manusia dengan alam. Tentang kebersamaan. Tentang identitas. Dan tentang bagaimana masyarakat Mentawai dapat memasuki masa depan tanpa harus kehilangan ingatan terhadap masa lalunya.

Festival ini juga memberikan pesan bahwa pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Komunitas, keluarga, sekolah, seniman, pelaku usaha dan masyarakat memiliki peran yang sama penting.

Khusus generasi muda, keterlibatan mereka menjadi penentu. Sebab, kebudayaan akan menghadapi persoalan serius apabila hanya dikenali oleh generasi yang lebih tua.

Karena itu, kegiatan mewarnai, musikalisasi puisi, Turuk Laggai, teater, film, tato, kerajinan, hingga inovasi pangan menjadi cara kreatif untuk mendekatkan budaya kepada generasi muda.

Ke depan, festival semacam ini layak terus dikembangkan secara konsisten. Bukan hanya sebagai kegiatan tahunan, tetapi sebagai ekosistem kebudayaan yang mampu melahirkan karya, pengetahuan, pelaku kreatif dan peluang ekonomi baru dari Mentawai.

Festival Ka Pusagaikat 2026 pada akhirnya memberikan satu pesan penting: Mentawai memiliki kekayaan budaya yang bukan hanya layak dikenang, tetapi juga memiliki potensi untuk dikembangkan.

Sagu tidak boleh hanya menjadi cerita masa lalu.

Turuk Laggai tidak boleh hanya tampil ketika festival berlangsung. Kerajinan lokal tidak boleh berhenti sebagai cendera mata.

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.