Festival Ka Pusagaikat Hidupkan Kembali Akar Budaya Mentawai

by -2993 Views
Foto ; repro/dok/mentawaikita.com*
banner 468x60

TriBrataPost.Com | JSCgroupmedia ~ Semangat merawat budaya dan menghidupkan kembali pengetahuan lokal masyarakat Mentawai terus bergema di Desa Maileppet, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Festival Ka Pusagaikat 2026 yang digelar Komunitas Sinuruk Mattaoi Indonesia memasuki hari kelima pada Jumat (28/8/2026), menghadirkan ruang perjumpaan masyarakat, pelajar, generasi muda, seniman, komunitas, pelaku UMKM dan pegiat budaya.

banner 336x280

Mengusung semangat “Ka Pusagaikat” atau “Bersagu”, festival ini tidak sekadar menjadi agenda pertunjukan seni dan budaya.

Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi ruang bersama untuk mengenali kembali sagu sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Mentawai, sekaligus membuka percakapan mengenai masa depan kebudayaan lokal di tengah perubahan zaman.

Festival yang resmi dibuka pada Senin (24/8/2026) tersebut menghadirkan rangkaian kegiatan seni, budaya, pendidikan, kuliner, lokakarya, ekonomi kreatif, hingga pemutaran dan diskusi film.

Seluruh kegiatan dirancang untuk mempertemukan pengetahuan tradisional dengan kreativitas generasi masa kini.

Pembukaan festival berlangsung sejak sore hingga malam hari dan dibuka oleh Camat Siberut Selatan, Hijon. Kegiatan tersebut turut dihadiri unsur pemerintah desa, sanggar seni, tokoh masyarakat, seniman serta masyarakat setempat.

Suasana pembukaan semakin semarak melalui penampilan tari kreasi Mentawai dan Turuk Laggai yang dibawakan anak-anak binaan Komunitas Sinuruk Mattaoi Indonesia bersama Sanggar Bubuakat Simalainge.

Sementara itu, siswa SMAN 1 Siberut Selatan tampil melalui musikalisasi puisi. Panggung festival sekaligus menjadi ruang bagi karya-karya kreatif masyarakat Mentawai.

Sejumlah karya yang dipamerkan antara lain karya Toyan Seppungan, alumni Seni Rupa Universitas Negeri Padang asal Desa Maileppet, lukisan Tamanaiji Raina A Saleleubaja, siswa SMA 10 Padang asal Maileppet, serta karya Viktor, perajin rotan dari Desa Muntei, dan Mater, perajin kerajinan khas Mentawai dari Desa Muntei.

Namun, ada satu bagian pembukaan yang memiliki pesan lebih dalam: makan bersama dengan pangan lokal.

Sagu dan ikan yang dimasak menggunakan bambu disajikan dalam lulak berukuran besar untuk dinikmati bersama.

Tradisi tersebut tidak hanya menghadirkan suasana kebersamaan, tetapi juga mengingatkan masyarakat bahwa pangan lokal merupakan bagian penting dari pengetahuan, identitas dan kehidupan masyarakat Mentawai.

Pesan itu kemudian semakin kuat sepanjang pelaksanaan festival.

Pada hari kedua, Selasa (25/8/2026), lebih dari 100 anak tingkat TK dan SD di Kecamatan Siberut Selatan mengikuti Lomba Mewarnai Bertema Budaya Mentawai.

Tingginya partisipasi anak-anak menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus selalu dimulai dari ruang formal.

Kreativitas sederhana melalui gambar dapat menjadi pintu masuk bagi anak-anak untuk mengenal lingkungan, tradisi dan identitas budaya mereka sendiri.

Kegiatan dilanjutkan dengan Workshop Pembuatan Gelang Letcu. Peserta tidak hanya melihat hasil kerajinan, tetapi mendapatkan kesempatan mengenal dan mempraktikkan proses pembuatannya.

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.