JIAT Kabupaten Serang Disorot, Petani Pertanyakan Manfaat Sumur Bor

by -2425 Views
Foto ; repro/dok/fb*
banner 468x60

Tidak tepat apabila penyebabnya langsung disimpulkan sebagai manipulasi kedalaman pengeboran sebelum ada hasil pemeriksaan.

Kegagalan memperoleh debit air sesuai target dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari karakteristik akuifer, posisi konstruksi sumur, desain screen, metode pengeboran, kapasitas pompa, kondisi jaringan, hingga perubahan kondisi air tanah.

banner 336x280

Di sisi lain, apabila hasil pemeriksaan membuktikan bahwa pekerjaan tidak sesuai spesifikasi kontrak, persoalannya tentu menjadi lebih serius.

Pemerintah harus memastikan pihak yang bertanggung jawab memperbaiki pekerjaan sesuai ketentuan dan, apabila ditemukan unsur pelanggaran hukum, menyerahkannya kepada mekanisme penegakan hukum.

Keluhan masyarakat menjadi penting karena mereka merupakan penerima manfaat langsung. Petani tidak membutuhkan bangunan yang sekadar terlihat selesai. Mereka membutuhkan air yang benar-benar mengalir ke lahan pertanian ketika hujan tidak turun.

Pembangunan infrastruktur pertanian pada akhirnya harus diukur berdasarkan manfaat.

Pompa yang berdiri tetapi tidak dapat digunakan, jaringan pipa yang tidak mengalirkan air atau bak penampungan yang tidak berfungsi tidak akan menyelesaikan persoalan kekeringan.

Dalam konteks program nasional, JIAT memiliki posisi strategis. BBWS C3 menyatakan pada 2025 mereka membangun JIAT di 49 lokasi di wilayah Banten.

Program tersebut dikaitkan dengan upaya memperkuat ketahanan pangan dan mendukung Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 mengenai percepatan pembangunan, peningkatan, rehabilitasi serta operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi.

BBWS C3 juga sebelumnya menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur sumber daya air tidak sekadar pekerjaan konstruksi, tetapi diarahkan untuk meningkatkan ketersediaan air, mendukung ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Karena itu, pengawasan terhadap JIAT harus mengikuti prinsip yang sama: tepat mutu, tepat sasaran dan tepat manfaat.

Menariknya, BBWS C3 sendiri pernah menegaskan pentingnya pengawasan terhadap kualitas pekerjaan JIAT.

Dalam kegiatan monitoring dan evaluasi pada September 2025, balai tersebut menyebut pemantauan dilakukan untuk menilai kualitas pekerjaan agar sesuai dengan standar teknis yang ditetapkan dan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.

Pernyataan tersebut dapat menjadi dasar evaluasi objektif terhadap setiap keluhan yang muncul.

Jika warga melaporkan pompa tidak berfungsi, maka pertanyaan pertama adalah: apakah debit air sesuai hasil uji? Jika pompa tidak mampu mengangkat air, apakah kapasitas pompa sesuai desain? Jika jaringan distribusi tidak bekerja, apakah diameter dan spesifikasi pipa sesuai kontrak? Jika bak penampungan tidak dapat digunakan, apakah volume dan konstruksinya memenuhi rancangan?

Jawaban atas pertanyaan tersebut membutuhkan data, bukan sekadar pernyataan.

Pemeriksaan juga harus membandingkan dokumen kontrak dengan kondisi fisik.

Spesifikasi teknis, gambar kerja, as built drawing, laporan pengawasan, berita acara pemeriksaan pekerjaan, hasil uji pemompaan dan dokumen serah terima merupakan bagian penting yang perlu diperiksa.

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.