Puncak Jaya, Mahkota Papua yang Terancam Kehilangan Gletser

by -2972 Views
Foto ; repro/dok/smkn7baleendah*
banner 468x60

TriBrataPost.Com | JSCgroupmedia ~ Puncak Jaya atau Carstensz Pyramid merupakan salah satu gunung paling ikonik di Indonesia sekaligus salah satu tujuan pendakian bergengsi dunia.

Berdiri sekitar 4.884 meter di atas permukaan laut di Pegunungan Jayawijaya, Papua, puncak ini dikenal sebagai titik tertinggi Indonesia dan salah satu tujuan dalam daftar Seven Summits berdasarkan sejumlah klasifikasi pendakian dunia.

banner 336x280

Namun, di balik kemegahan tebingnya, Puncak Jaya menghadapi persoalan serius: lapisan es tropis yang menjadi salah satu keunikan kawasan tersebut terus menyusut akibat perubahan iklim.

Puncak Jaya bukan sekadar destinasi bagi pendaki profesional.

Gunung ini merupakan pertemuan antara sejarah, geografi, budaya masyarakat asli Papua, ilmu pengetahuan, pariwisata, dan persoalan lingkungan global.

Karena itu, keberadaannya memiliki arti jauh lebih besar daripada sekadar angka ketinggian.

Nama Carstensz Pyramid berasal dari Jan Carstensz, penjelajah Belanda yang pada abad ke-17 melaporkan keberadaan pegunungan tinggi dan lapisan es di kawasan dekat garis khatulistiwa.

Laporan tersebut sempat sulit dipercaya di Eropa karena keberadaan es di wilayah tropis dianggap tidak lazim.

Ekspedisi-ekspedisi berikutnya kemudian membuktikan bahwa laporan mengenai keberadaan es di Pegunungan Jayawijaya memang memiliki dasar.

Di Indonesia, kawasan ini lebih dikenal sebagai Puncak Jaya. Nama tersebut memiliki makna simbolis dalam sejarah nasional Indonesia dan berkaitan dengan perubahan politik serta integrasi Papua ke dalam Indonesia.

Namun, pembahasan mengenai Puncak Jaya tidak cukup hanya dilihat dari perspektif sejarah nasional.

Bagi masyarakat asli Papua, kawasan pegunungan memiliki hubungan dengan ruang hidup, sejarah, adat, serta nilai budaya yang diwariskan lintas generasi.

Komunitas seperti Amungme, Dani, Moni, dan masyarakat Papua lainnya memiliki hubungan yang beragam dengan bentang alam pegunungan.

Karena itu, pengembangan kegiatan pendakian dan pariwisata di kawasan Puncak Jaya harus memperhatikan masyarakat lokal sebagai bagian penting dari pengelolaan kawasan, bukan sekadar sebagai pelengkap aktivitas wisata.

Persoalan paling mendesak saat ini adalah perubahan tutupan es. Pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG terhadap gletser Puncak Jaya selama 2009–2023 menunjukkan adanya penyusutan yang signifikan.

Pada periode 2016 hingga 2022, rata-rata pengurangan luas es tercatat sekitar 0,07 kilometer persegi per tahun. Sementara itu, estimasi luas tutupan es pada April 2022 berada di sekitar 0,23 kilometer persegi.

Angka tersebut menunjukkan bahwa gletser tropis Puncak Jaya berada dalam tekanan serius.

Jika tren kehilangan es berlanjut, lapisan es yang selama ini menjadi salah satu ciri khas Pegunungan Jayawijaya berpotensi semakin kecil dan pada akhirnya menghilang.

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.