Rajo Ameh Soroti Visi Prabowo & Modernisasi Maritim Indonesia

by -2528 Views
Foto ; repro/dok/ilustrasi*
banner 468x60

Hal tersebut menjadi penting ketika pemerintah membawa narasi kemandirian pertahanan.

Kemandirian bukan berarti seluruh komponen harus diproduksi di dalam negeri sejak awal.

banner 336x280

Namun, penguatan industri nasional, transfer teknologi, kemampuan pemeliharaan domestik, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan pengembangan rantai pasok dalam negeri menjadi faktor yang relevan untuk menilai manfaat strategis suatu program modernisasi.

Gagasan Indonesia sebagai “Macan Asia” juga perlu ditempatkan dalam konteks yang lebih luas.

Kekuatan nasional tidak hanya ditentukan oleh kemampuan militer. Pertumbuhan ekonomi, produktivitas industri, pendidikan, teknologi, kesehatan, ketahanan energi dan pangan, kualitas institusi, diplomasi, serta kemampuan menjaga stabilitas sosial merupakan komponen yang saling berkaitan.

Bagi Indonesia, penguatan kekuatan maritim mempunyai dimensi khusus karena posisi geografisnya berada di antara Samudra Hindia dan Pasifik.

Jalur perdagangan internasional melewati perairan strategis Indonesia, sementara wilayah laut juga menyimpan sumber daya perikanan, energi, mineral, dan potensi ekonomi biru.

Karena itu, pembangunan kekuatan maritim idealnya berjalan beriringan dengan perlindungan lingkungan laut, keselamatan pelayaran, pemberantasan penangkapan ikan ilegal, pengembangan ekonomi pesisir, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat kepulauan.

Rajo Ameh melihat agenda tersebut sebagai bagian dari kebutuhan Indonesia untuk membangun kekuatan nasional secara menyeluruh.

Dalam pandangan itu, pertahanan yang kuat harus ditopang ekonomi yang produktif, sementara ekonomi yang kuat membutuhkan stabilitas dan perlindungan kepentingan nasional.

Di sisi lain, narasi kebangkitan Indonesia harus tetap diuji melalui indikator yang terukur.

Seberapa jauh swasembada pangan tercapai, seberapa besar ketergantungan energi dapat ditekan, berapa nilai tambah yang dihasilkan industri dalam negeri, seberapa kuat industri pertahanan nasional berkembang, serta bagaimana kualitas kesejahteraan masyarakat menjadi pertanyaan yang tidak kalah penting dibandingkan simbol-simbol kekuatan negara.

Dengan demikian, wacana “Macan Asia” tidak semestinya berhenti sebagai slogan politik.

Ia harus diterjemahkan ke dalam kebijakan yang dapat diukur dan dirasakan masyarakat. Ketahanan pangan harus berujung pada ketersediaan pangan dan harga yang terjangkau.

Ketahanan energi harus meningkatkan kepastian pasokan. Hilirisasi harus menghasilkan pekerjaan dan nilai tambah. Modernisasi pertahanan harus meningkatkan kemampuan menjaga kedaulatan sekaligus memberi manfaat bagi operasi kemanusiaan.

Bila keberadaan KRI Sriwijaya-100 dan seluruh informasi mengenai kapal tersebut nantinya dikonfirmasi oleh sumber resmi, kehadirannya dapat menjadi salah satu bagian dari pembahasan lebih luas mengenai arah modernisasi kekuatan maritim Indonesia.

Namun, kapal tersebut tidak dapat sendirian menjadi ukuran kebangkitan Indonesia sebagai kekuatan Asia.

Kekuatan sebuah negara pada akhirnya dibangun oleh kombinasi antara kemampuan pertahanan, ketahanan ekonomi, kualitas manusia, teknologi, diplomasi, tata kelola pemerintahan, serta kesejahteraan rakyat.

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.