Rajo Ameh Soroti Visi Prabowo & Modernisasi Maritim Indonesia

by -2498 Views
Foto ; repro/dok/ilustrasi*
banner 468x60

TriBrataPost.Com | JSCgroupmedia ~ Ketua Umum Dewan Pembina KMP (Keluarga Minang Perantauan), Rajo Ameh, menilai agenda penguatan ketahanan pangan, energi, industri, pertahanan, serta posisi Indonesia di kawasan merupakan bagian penting dari visi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan daya tawar Indonesia di tingkat regional dan global.

Pandangan itu disampaikan Rajo Ameh ketika menyoroti gagasan menjadikan Indonesia kembali sebagai “Macan Asia” serta dikaitkannya agenda tersebut dengan penguatan kekuatan maritim nasional.

banner 336x280

Menurut Rajo Ameh, visi tersebut tidak semata-mata harus dipahami dari sisi kekuatan militer.

Ia menilai kekuatan sebuah negara juga ditentukan oleh kemampuan memenuhi kebutuhan pangan dan energi secara mandiri, mengembangkan industri berbasis sumber daya alam, menjaga stabilitas nasional, serta membangun kemampuan pertahanan yang mampu melindungi kepentingan negara.

“Indonesia membutuhkan fondasi yang kuat.

Kedaulatan pangan, energi, hilirisasi industri, dan pertahanan harus berjalan beriringan agar Indonesia memiliki posisi yang semakin kuat dalam percaturan kawasan dan dunia,” demikian pandangan Rajo Ameh sebagaimana bahan yang disampaikan.

Dalam kerangka kebijakan pemerintah, swasembada pangan dan energi ditempatkan sebagai agenda strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri.

Kebijakan tersebut mempunyai dimensi ekonomi sekaligus geopolitik karena ketergantungan yang tinggi terhadap impor dapat meningkatkan kerentanan ketika terjadi gangguan rantai pasok global, konflik internasional, gejolak harga komoditas, atau perubahan kebijakan negara pemasok.

Agenda berikutnya adalah hilirisasi.

Pengolahan sumber daya alam di dalam negeri ditujukan untuk menciptakan nilai tambah yang lebih besar dibandingkan sekadar mengekspor bahan mentah.

Bagi Indonesia, kebijakan tersebut berkaitan erat dengan industri mineral, energi, manufaktur, serta pengembangan ekosistem industri baru.

Namun, keberhasilan hilirisasi tidak cukup diukur dari bertambahnya fasilitas pengolahan.

Dampaknya terhadap lapangan pekerjaan, transfer teknologi, penerimaan negara, penguatan industri nasional, lingkungan, dan pemerataan manfaat ekonomi juga menjadi ukuran penting yang perlu diperhatikan.

Pada sektor pertahanan, modernisasi alat utama sistem senjata atau alutsista menjadi bagian lain dari upaya meningkatkan kemampuan negara menghadapi dinamika keamanan kawasan.

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan wilayah laut yang sangat luas sehingga kemampuan maritim mempunyai arti strategis dalam menjaga kedaulatan, jalur perdagangan, sumber daya laut, serta keselamatan masyarakat di kawasan pesisir dan kepulauan.

Dalam konteks inilah, muncul klaim mengenai kehadiran KRI Sriwijaya-100 yang disebut sebagai kapal induk helikopter pertama Indonesia.

Berdasarkan bahan yang diberikan, kapal tersebut diklaim berasal dari kapal bekas Angkatan Laut Italia, ITS Giuseppe Garibaldi, sebelum kemudian dilakukan pergantian nama dan bendera menjadi KRI Sriwijaya-100 pada 24 September 2026 di Dermaga 107 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

Nama “Sriwijaya”, dikaitkan dengan sejarah kerajaan maritim Sriwijaya.

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.